Mr. Right The Novel: Cuplikan #1
Sunday, October 15, 2006
11:05 PM



Cuplikannya Mr. RIGHT

Batu kerikil beterbangan ditendang Riri yang masih kesel karena gagal jual pesona.

Sialan! Kenapa aki-aki itu bisa seangkot sama gue. Lalu kenapa pula tuh aki-aki tanpa hujan tanpa angin tega-teganya nanya gue dengan pertanyaan yang bener-bener ngejatuhin? Ancur banget gak sih gue! Sialan! Dasar kutu kupret...!!!

Kaki Riri diayun lagi. Menendang kerikil bersamaan dengan bunyi ‘tet’ yang mengagetkannya.

Riri terlonjak dan serta merta memalingkan wajahnya. Matanya segera membentur wajah Oman yang dengan bangganya tengah memarken deretan gigi semi kuningnya. Duduk di atas motor bebek merahnya Oman menebar senyum kepada Riri. Bunyi ‘tet’ tadi rupanya bunyi klakson motor Oman.

“Hallo Dek Riri…, selamat pagi!” sapa Oman ramah.
“Pagi! Pagi! Elu yang pagi, gue yang kaget!” keramahan Oman dibalas gerutuan Riri.

Oman bengong. Tapi sebagai lelaki berkulit badak tidak ada alasan untuk langsung mundur.
“Waduh, maafkan Aa Oman kalau ternyata mengagetkan Dek Riri. Aa Oman tidak tahu kalau Dek Riri sedang melamun. Sebagai tanda penyesalan, Aa Oman persem-bahkan ini buat Dek Riri…” ujar Oman sambil meraih setangkai bunga mawar merah yang ia selipkan dibalik seragam putihnya.

Sekarang giliran Riri yang bengong. Benar-benar hari yang penuh kejutan pikirnya. Pagi-pagi sudah dapat dua kejutan besar. Di angkot tadi ia dikejutkan oleh aki-aki yang tidak pernah diharapkan untuk bertemu lagi. Dan sekarang seorang cowok, di saat embun pagi masih belum kering, mempersembahkan sebuah mawar merah, bunga tanda cinta.

Masalahnya, kedua kejutan itu sama sekali tidak diharapkan Riri.

“Dek Riri…, mawar merah ini matang di pohon lo (Emangnya tomat, matang di pohon...). Saya sengaja memetik sendiri. Khusus untuk Dek Riri.”

Riri makin bengong. Kekesalannya sudah say good bye entah kemana. Ketak-jubannya akan tingkah ajaib Oman membuatnya menjadi salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa. Mau marah-marah jelas tidak mungkin. Selain karena Riri memang bukan pemarah (kecuali suka menggerutu dan neriakin Farrel), saat itu sudah mulai ramai oleh anak-anak SMU Merdeka lainnya yang mau pada upacara bendera. Bisa-bisa disang-kain lagi latihan drama, kan nggak lucu.

“Eh…eh…” Riri mau ngomong sesuatu tapi tidak tahu apa yang harus di-omongkan.
“Terimalah Dek Riri…” Oman mengulurkan mawar merahnya.

Riri bingung tapi akhirnya tanggannya terulur juga menerima bunga itu. Tak ada pilihan pikir Riri. Terlalu jahat kalau menolaknya mentah-mentah.
“Ngomong-ngomong Dek Riri kemarin cantik sekali deh, penampilannya sangat Aa Oman sukai, Aa Oman cinta...”
“Hah?!! Cinta??!!” potong Riri kaget, matanya hampir mencolot keluar.
Oman gelagapan.
“Eh…iya.., cinta, cinta tanah air, cinta orang tua, cinta sekolah, cinta Avril….” jawab Oman ngawur.

Hhhh…Riri menarik nafas lega. Ternyata Oman belum berani sampai sejauh itu.

“Dek Riri…, Aa Oman juga mengucapkan terimakasih atas hadiah kiss by-nya. Aa Oman senang sekali. Akan Aa Oman kenang sepanjang hidup Aa Oman”

Hmmmm… Riri hanya mengguman kecil.

“Sebagai tanda terimakasih, Dek Riri kiranya sudi Aa Oman antarkan sampai gerbang sekolahan…”

O la la…, Ini dia yang bakal bikin masalah jadi makin lebar. Orang-orang satu sekolahan pasti nyorakin gue lagi. Kemarin sih seneng disorakin, nah sekarang…, disorakin gara-gara dibonceng selebritis kafiran, apa nggak nutup pasaran tuh?

“Eh…eh…” Riri langsung celingukan nyari alasan buat melarikan diri.
“Please Dek Riri, ini sebagai tanda terima kasih saya…”

Riri celingukan. Tapi bala bantuan tak kunjung nongol. Tak ada teman yang dikenalnya. Tak ada Aidan, Abeng, Romi, Vika, atau teman-teman sekelasnya.

“Please, sekali ini saja Dek Riri…”

Melihat wajah memelas itu, ada rasa iba juga di hati Riri. Akhirnya sebuah anggukan penuh keraguan diberikan Riri.



|